20 Juli 2012

Riba = Susah di Dunia dan Akhirat

Prolog

Andaikan ada berita yang mengabarkan tentang seorang anak yang memperkosa ibu kandungnya sendiri, penulis yakin gelombang kutukan terhadap pelaku perbuatan keji tersebut akan tak kuasa untuk dibendung! Bisa dipastikan tidak ada satupun orang yang berakal sehat mendukung perilaku munkar tersebut!
Namun, bagaimana halnya jika ada iklan bank yang mempromosikan pinjaman dengan bunga lunak? Akankah ada pengingkaran terhadap praktek ribawi tersebut? Ataukah justru hal itu dianggap sebagai berita yang lazim, atau bahkan akan menuai pujian lantaran lunaknya bunga yang ditawarkan? Lalu sebaliknya, ustadz yang memperingatkan umat dari bahaya berhubungan dengan bank dalam model transaksi seperti itu, akan dicap sebagai orang yang kaku, keras, saklek, dan segudang stigma lainnya?
Begitulah kira-kira sekelumit realita ketidaksadaran banyak umat dengan bahaya riba. Padahal menurut kacamata Islam, berzina dengan ibu kandung dan memakan riba dosanya adalah selevel! Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَاباً، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ
“Riba ada tujuh puluh tiga tingkatan. Yang paling ringan adalah seperti seseorang yang menzinai ibunya”. HR. Al-Hakim dan dinyatakan sahih oleh beliau dan al-Albany.

• Periodisasi Pengharaman Riba1
Sebagaimana khamar, riba tidak Allah haramkan sekaligus, melainkan melalui tahapan yang hampir sama dengan tahapan pengharaman khamar.
Pengetahuan tentang hal ini bukan untuk merubah hukum riba; sebab riba sudah jelas haram berdasarkan al-Qur’an, Sunnah maupun ijma’. Namun untuk mengetahui sejarah turunnya ayat-ayat yang berbicara tentang riba, juga untuk mengenal besarnya hikmah dan kasih sayang Allah yang mempertimbangkan kondisi psikologis para hamba-Nya dan tingkat kesiapan mereka dalam menerima hukum. Tidak kalah pentingnya juga, untuk mempelajari berbagai sisi argumen al-Qur’an dalam mengharamkan riba.

1. Tahap pertama dengan mematahkan paradigma manusia bahwa riba akan melipatgandakan harta.
Pada tahap pertama ini, Allah ta’ala hanya memberitahukan pada mereka, bahwa cara yang mereka gunakan untuk mengembangkan uang melalui riba sesungguhnya sama sekali tidak akan berlipat di mata Allah ta’ala. Bahkan dengan cara seperti itu, secara makro berakibat pada tidak seimbangnya sistem perekonomian yang berujung pada penurunan nilai mata uang melalui inflasi. Dan hal ini justru akan merugikan mereka sendiri.
Pematahan paradigma ini Allah gambarkan dalam QS. Ar-Rum (30): 39;
Sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)”.

2. Tahap kedua: Pemberitahuan bahwa riba diharamkan atas umat terdahulu.
Setelah mematahkan paradigma tentang melipat gandakan uang sebagaimana di atas, Allah ta’ala lalu menginformasikan bahwa karena buruknya sistem ribawi ini, maka umat-umat terdahulu juga telah dilarang untuk melakukannya. Bahkan karena mereka tetap bersikeras memakan riba, maka Allah kategorikan mereka sebagai orang-orang kafir dan Allah ancam mereka dengan azab yang pedih. Ayat ini juga mengisyaratkan kemungkinan akan diharamkannya riba atas umat Islam, sebagaimana telah diharamkan atas umat sebelumnya.
Allah ta’ala berfirman,
Karena kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan bagi mereka makanan yang baik-baik yang (dahulu) pernah dihalalkan; dan karena mereka sering menghalangi (orang lain) dari jalan Allah. Dan karena mereka menjalankan riba, padahal sungguh mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih”.QS. An-Nisa’ (4): 160-161.
3. Tahap ketiga: Gambaran bahwa riba akan membuahkan kezaliman yang berlipat ganda.
Pada tahapan yang ketiga, Allah ta’ala menerangkan bahwa riba mengakibat kezaliman yang berlipat ganda. Di antara bentuknya: si pemberi pinjaman akan membebani peminjam dengan bunga sebagai kompensasi dari pertangguhan waktu pembayaran hutang tersebut. Yang itu akan semakin bertambah dengan berjalannya waktu, apalagi manakala tenggat waktu yang telah disepakati tidak bisa dipenuhi oleh peminjam. Sehingga si peminjam akan sangat sengsara karena terbebani dengan hutang yang semakin berlipat ganda.2
Salah satu yang perlu digarisbawahi, sebagaimana dijelaskan antara lain oleh asy-Syaukany dalam Tafsirnya, bahwa ayat ini sama sekali tidak menggambarkan bahwa riba yang dilarang adalah yang berlipat ganda, sedangkan yang tidak berlipat ganda tidak dilarang. Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang keliru dan tidak dimaksudkan dalam ayat ini.3
Allah ta’ala mengingatkan,
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kalian mendapat keberuntungan.”QS. Ali Imran (3):130.
4. Tahap keempat: Pengharaman segala macam dan bentuk riba.
Ini merupakan tahapan terakhir dari seluruh rangkaian periodisasi pengharaman riba. Dalam tahap ini, seluruh rangkaian aktivitas dan muamalah yang berkaitan dengan riba, baik langsung maupun tidak langsung, berlipat ganda maupun tidak berlipat ganda, besar maupun kecil, semuanya adalah terlarang dan termasuk dosa besar.
Allah ta’ala menegaskan,
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) bila kamu orang yang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Tetapi jika kamu bertaubat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak pula dizalimi (dirugikan).” QS. Al-Baqarah (2): 278-279.
• Kerugian duniawi pelaku riba
Satu hal yang seharusnya selalu diingat setiap insan, manakala Islam melarang suatu perbuatan, pasti perilaku tersebut memuat kerusakan fatal atau mengakibatkan bahaya besar bagi pelakunya, baik di dunia maupun akhirat. Sekalipun barangkali perbuatan itu mengandung beberapa manfaat. Jika dicermati ulang dengan teliti, ternyata manfaat tadi bila dibandingan dengan keburukan yang ditimbulkannya, jelas tidak ada apa-apanya.
Banyak orang mengira bahwa dengan jual beli sistem riba atau meminjamkan uang yang berbunga akan menguntungkan dirinya, padahal sejatinya tidaklah demikian. Keuntungan yang nampaknya banyak, tidak lain hanyalah fatamorgana belaka. Allah ta’ala berfirman, “Allah melenyapkan riba dan menyuburkan sedekah”. QS. Al-Baqarah (2): 276.
Lenyapnya harta hasil riba, kata Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, bisa jadi lenyap secara total dari tangan pemiliknya, atau keberkahan harta tersebut hilang, sehingga tidak bisa dipetik manfaatnya.
Di antara indikasi ketidakberkahan suatu harta, manakala dimakan, dia akan menumbuhkan berbagai macam penyakit di tubuh, menjadikan hati tidak tentram, membuat anak-anak nakal dan sulit diatur. Manakala digunakan untuk membangun rumah, maka tidak nyaman untuk ditinggali. Bahkan bisa jadi Allah akan memusnahkannya dalam sekejap, dengan mengirim api untuk membakarnya, atau mengutus air untuk menenggelamkannya, atau musibah lainnya.
Itu sekedar contoh dampak buruk riba yang berskala kecil (baca: pribadi). Adapun dampaknya yang lebih luas, kiranya krisis ekonomi di Amerika belum lama ini merupakan contoh paling mudah dan jelasnya.
Banyak orang merasa heran bagaimana Amerika Serikat yang konon memiliki sistem ekonomi dan keuangan yang kuat, bisa mengalami krisis yang begitu parah, hingga total hutang negeri Paman Sam saat ini mencapai 15 triliun dolar, sebagaimana dilansir blog ekonomi, The Economy Collapse (TEC).
Usut punya usut, biang keladi dari krisis tersebut tidak lain adalah lembaga keuangan di Amerika Serikat, terutama perbankan. Bahwa negara Amerika menjalan sistem ekonomi riba tentu kita semua sudah tahu. Tapi bukan hanya itu masalahnya. Ada tindakan negatif yang dilakukan bank-bank di Amerika untuk meraup keuntungan lebih. Tindakan ini berkaitan dengan pemberian kredit rumah.
Permisalan gampangnya seperti ini. Para nasabah seharusnya membayar cicilan bunga kredit sebesar 200 ribu setiap bulan. Ternyata bank memberikan keringanan semu kepada nasabah dengan menarik cicilan bunga kredit sebesar 100 ribu setiap bulan. Tentu 100 ribu sisanya tidak direlakan begitu saja. Lebih kejamnya sisa cicilan bunga tersebut dimasukkan ke dalam hutang kredit pokok. Secara otomatis, pokok kredit yang bertambah akan menyebabkan nominal bunga pinjaman pun bertambah. Intinya bisa dikatakan, bunga pinjaman kemudian berbunga lagi. Tentu hal ini membuat para nasabah tidak mampu membayar cicilan karena nilainya terus membengkak.
Akibatnya, banyak nasabah yang harus kehilangan rumah kredit tersebut. Lebih lanjut hal ini berdampak pada merosotnya bisnis properti yang ada di Amerika. Bak bola salju, krisis ini terus menggelinding sambil menyeret gumpalan-gumpalan krisis yang lain hingga terus menjalar ke benua Eropa. Sungguh benar firman Allah ta’aladalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 276 tersebut di atas.
Cukup kiranya bagi umat manusia krisis ekonomi di Asia, Amerika, dan Eropa menjadi pelajaran yang berharga. Terutama sekali bagi kita sebagai umat Islam yang diberikan sistem ekonomi terbaik dari sisi Allah. Dan sudah saatnya bagi kita untuk hijrah dari ekonomi kapitalis atau riba kepada ekonomi Islam atau syariah. Ini semua untuk kemaslahatan kita di dunia terutama di akhirat kelak. 4
• Kerugian ukhrawi pelaku riba
Keterangan di atas baru membahas tentang sebagian kecil dampak buruk riba di dunia, yang ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan akibatnya di akhirat.
Sejak awal kebangkitan para pemakan riba dari alam kubur saja, mereka sudah berpenampilan mengenaskan; seperti orang gila yang kesurupan setan!

“Orang-orang yang memakan riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.
 QS. Al-Baqarah (2): 275.
Kelanjutannya, mereka terancam dengan siksaan yang sangat pedih di neraka.

“Barangsiapa mendapat peringatan dari Rabbnya, lalu ia berhenti (dari memakan riba), maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Namun barang siapa yang kembali (memakan riba), maka bagi mereka adalah azab neraka dan mereka kekal di dalamnya”. 
QS. Al-Baqarah (2): 275.
Sunnah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendeskripsikan berbagai jenis siksaan yang disiapkan Allah untuk para pemakan riba.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menuturkan ‘kunjungannya’ ke neraka,
Kami mendatangi sungai yang airnya merah seperti darah. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang yang berenang di dalamnya, dan di tepi sungai ada orang yang mengumpulkan batu banyak sekali. Lalu orang yang berenang itu mendatangi orang yang telah mengumpulkan batu, sembari membuka mulutnya dan memakan batu-batu tersebut … Orang tersebut tidak lain adalah pemakan riba”. HR. Bukhari (no. 7047) dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ’anhu.
Dalam hadits lain diceritakan,
أَتَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى قَوْمٍ بُطُونُهُمْ كَالْبُيُوتِ فِيهَا الْحَيَّاتُ تُرَى مِنْ خَارِجِ بُطُونِهِمْ، فَقُلْتُ: “مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرَائِيلُ؟” قَالَ: “هَؤُلَاءِ أَكَلَةُ الرِّبَا
“Pada malam Isra’ aku mendatangi suatu kaum yang perutnya sebesar rumah, dan dipenuhi dengan ular-ular. Ular tersebut terlihat dari luar. Akupun bertanya, “Siapakah mereka wahai Jibril?”. “Mereka adalah para pemakan riba” jawab beliau”. HR. Ibn Majah (no. 2273) dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai lemah oleh al-Albany.
Semoga tulisan sederhana ini bisa lebih menyadarkan kaum muslimin bahwa riba hanyalah akan membawa kesusahan di dunia dan akhirat, maka ayo bersegeralah untuk meninggalkan riba!

Ditulis di Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga, 08 Rabi’ul Awwal 1433 / 31 Januari 2012
Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
Artikel www.pengusahamuslim.com

18 Februari 2012

MEMBANGUN ERA BISNIS SYARIAH

Subhanallah....bumi yang luas ini dipergunakan untuk kemakmuran
manusia. Saya membayangkan sistem tata surya kita, kita mencoba
membayangkan berada di atas bumi antara bulan dan bumi namun lebih
dekat dengan bumi... Sebuah Maha Karya Agung dari Allah SWT. Sebuah
keseimbangan bumi yang melayang di jagat raya dan berotasi pada
sumbunya serta berevolusi mengelilingi matahari. Sudah cukuplah Allah
memberikan kekayaan kepada kita melalui bumi untuk dipergunakan
sebagai kemakmuran manusia. Marilah kita mulai kembangkan apa yang
telah Allah SWT berikan melalui kitab-Nya. Bisnis yang baik dan
ambilah makna dari bisnis yang terkandung dalam Al Quran. Allah SWT
menceritakan lautan da isinya untuk manusia, pertanda bisnis perikanan
laut. Allah SWT menceritakan tumbuhnya biji-bijian, pertanda bisnis
pertanian, perkebunan. Allah SWT menceritakan ternak, pertanda bisnis
peternakan. Allah SWT memberikan petunjuk untuk menutup aurat,
pertanda bisnis fashion yang Islami. Allah SWT memberikan petunjuk
tentang kesucian, pertanda bisnis yang berkaitan dengan kebersihan
diri dan rumah tinggal. Allah SWT menceritakan tempat tinggal kaum
terdahulu, pertanda bisnis property. Allah SWT memberikan petunjuk
tentang halalnya jual beli dan tinggalkan riba.
Astaghfirullah....semoga petunjuk dari Allah SWT secara bertahap dapat
memberikan jalan yang terbaik bagi kita semua dalam beribadah dan
berkarya untuk agama dan keluarga. Amin.

Re: MEMBANGUN ERA BISNIS SYARIAH

Subhanallah....bumi yang luas ini dipergunakan untuk kemakmuran
manusia. Saya membayangkan sistem tata surya kita, kita mencoba
membayangkan berada di atas bumi antara bulan dan bumi namun lebih
dekat dengan bumi... Sebuah Maha Karya Agung dari Allah SWT. Sebuah
keseimbangan bumi yang melayang di jagat raya dan berotasi pada
sumbunya serta berevolusi mengelilingi matahari. Sudah cukuplah Allah
memberikan kekayaan kepada kita melalui bumi untuk dipergunakan
sebagai kemakmuran manusia. Marilah kita mulai kembangkan apa yang
telah Allah SWT berikan melalui kitab-Nya. Bisnis yang baik dan
ambilah makna dari bisnis yang terkandung dalam Al Quran. Allah SWT
menceritakan lautan da isinya untuk manusia, pertanda bisnis perikanan
laut. Allah SWT menceritakan tumbuhnya biji-bijian, pertanda bisnis
pertanian, perkebunan. Allah SWT menceritakan ternak, pertanda bisnis
peternakan. Allah SWT memberikan petunjuk untuk menutup aurat,
pertanda bisnis fashion yang Islami. Allah SWT memberikan petunjuk
tentang kesucian, pertanda bisnis yang berkaitan dengan kebersihan
diri dan rumah tinggal. Allah SWT menceritakan tempat tinggal kaum
terdahulu, pertanda bisnis property. Allah SWT memberikan petunjuk
tentang halalnya jual beli dan tinggalkan riba.
Astaghfirullah....semoga petunjuk dari Allah SWT secara bertahap dapat
memberikan jalan yang terbaik bagi kita semua dalam beribadah dan
berkarya untuk agama dan keluarga. Amin.

Pada tanggal 18/02/12, NUR WAHYU ADIWIJAYA
<nurwahyuadiwijaya@gmail.com> menulis:
> Subhanallah....bumi yang luas ini dipergunakan untuk kemakmuran
> manusia. Saya membayangkan sistem tata surya kita, kita mencoba
> membayangkan berada di atas bumi antara bulan dan bumi namun lebih
> dekat dengan bumi... Sebuah Maha Karya Agung dari Allah SWT. Sebuah
> keseimbangan bumi yang melayang di jagat raya dan berotasi pada
> sumbunya serta berevolusi mengelilingi matahari. Sudah cukuplah Allah
> memberikan kekayaan kepada kita melalui bumi untuk dipergunakan
> sebagai kemakmuran manusia. Marilah kita mulai kembangkan apa yang
> telah Allah SWt berikan melalui kitab-Nya. Bisnis yang baik dan
> ambilah makna dari bisnis yang terkandung dalam Al Quran. Allah SWT
> menceritakan lautan da isinya untuk manusia, pertanda bisnis perikanan
> laut. Allah SWT menceritakan tumbuhnya biji-bijian, pertanda bisnis
> pertanian, perkebunan. Allah SWT menceritakan ternak, pertanda bisnis
> peternakan. Allah SWT memberikan petunjuk untuk menutup aurat,
> pertanda bisnis fashion yang Islami. Allah SWT memberikan petunjuk
> tentang kesucian, pertanda bisnis yang berkaitan dengan kebersihan
> diri dan rumah tinggal. Allah SWT menceritakan tempat tinggal kaum
> terdahulu, pertanda bisnis property. Allah SWT memberikan petunjuk
> tentang halalnya jual beli dan tinggalkan riba.
> Astaghfirullah....semoga petunjuk dari Allah SWT secara bertahap dapat
> memberikan jalan yang terbaik bagi kita semua dalam beribadah dan
> berkarya untuk agama dan keluarga. Amin.
>

MEMBANGUN ERA BISNIS SYARIAH

Subhanallah....bumi yang luas ini dipergunakan untuk kemakmuran
manusia. Saya membayangkan sistem tata surya kita, kita mencoba
membayangkan berada di atas bumi antara bulan dan bumi namun lebih
dekat dengan bumi... Sebuah Maha Karya Agung dari Allah SWT. Sebuah
keseimbangan bumi yang melayang di jagat raya dan berotasi pada
sumbunya serta berevolusi mengelilingi matahari. Sudah cukuplah Allah
memberikan kekayaan kepada kita melalui bumi untuk dipergunakan
sebagai kemakmuran manusia. Marilah kita mulai kembangkan apa yang
telah Allah SWt berikan melalui kitab-Nya. Bisnis yang baik dan
ambilah makna dari bisnis yang terkandung dalam Al Quran. Allah SWT
menceritakan lautan da isinya untuk manusia, pertanda bisnis perikanan
laut. Allah SWT menceritakan tumbuhnya biji-bijian, pertanda bisnis
pertanian, perkebunan. Allah SWT menceritakan ternak, pertanda bisnis
peternakan. Allah SWT memberikan petunjuk untuk menutup aurat,
pertanda bisnis fashion yang Islami. Allah SWT memberikan petunjuk
tentang kesucian, pertanda bisnis yang berkaitan dengan kebersihan
diri dan rumah tinggal. Allah SWT menceritakan tempat tinggal kaum
terdahulu, pertanda bisnis property. Allah SWT memberikan petunjuk
tentang halalnya jual beli dan tinggalkan riba.
Astaghfirullah....semoga petunjuk dari Allah SWT secara bertahap dapat
memberikan jalan yang terbaik bagi kita semua dalam beribadah dan
berkarya untuk agama dan keluarga. Amin.

17 Februari 2012

SEBUAH RENUNGAN SEKEJAP

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya
kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang
telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba,
dan dari segala kemurkaan-Mu. (HR. Muslim no. 2739)

Sebuah iklan terdengar dari radio. Saat itu waktu menjelang malam.  Sehabis waktu Sholat Isya kiranya.  Begini iklannya : Sebuah bank memberikan anda uang sejumlah Rp 86.400,- tiap hari. Uang tersebut harus anda pergunakan semaksimal mungkin kemampuan anda untuk dibelanjakan.  Dan tepat pada pukul 00.00 malam uang tersebut akan ditarik kembali oleh bank.  Maka gunakanlah uang itu sebanyak-banyaknya sehingga memberikan kepada anda kekayaan.  Dan uang itu yang anda gunakan adalah waktu.  Saya berpikir sejenak, dan setelah diulas kembali ternyata dalam sehari terdapat 86.400 detik waktu.  Waktu akan terus berputar dan tidak terasa terus bergulir dari hari ke hari hingga kita tidak merasakan waktu terbuang sia-sia.  
Seperti yang telah dipaparkan Rasulullah SAW bahwa kita hanya sebentar saja di dunia.  Marilah gunakan waktu sebaik mungkin untuk beramal dan bersedekah.  Semoga Allah SWT memberikan jalan kepada kita, saya juga, untuk dapat terus bekerja, beramal, dan bersedekah dan pada jalan yang diridhoi-Nya. Amin.

3 September 2011

MUSTAHIQ RATING SCORE

Alhamdulillah telah sebulan penuh kita menjalankan ibadah puasa wajib bagi umat Muslim sesuai tuntunan ibadah yang disyariatkan.  Saya mulai kembali menelaah tentang kaidah Berkebun Sedekah.  Pada awal opini bahwa kita akan memberikan sedekah kepada yang berhak menerima dan sedekah ini merupakan sedekah produktif yang digunakan untuk modal kerja usaha sesuai dengan kemampuan penerima dalam menjalankan usahanya.  Hasil sedekah yang digunakan untuk modal kerja usaha akan menghasilkan pendapatan dari hasil perdagangan dan sebagian disedekahkan.  Tentunya terdapat asumsi bahwa siapa yang benar-benar berhak menerima dengan ikhlas untuk dipergunakan sebagai modal kerja, bukan dipergunakan sekedar hanya untuk konsumsi dan tidak memberikan nilai tambah yang meningkat bagi penerimanya.
Siapakah penerima  zakat, infaq, dan sedekah (mustahiq) sesuai dengan ketentuan dalam hukum Islam.
  1. Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang fakir, orang miskin, pengurus zakat, mualaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan buak, orang yang berutang (gharim), orang yang berjihad fisabilillah, ibn sabil (QS. At Taubah : 60).
  2. Infak tidak ada batasan siapa yang harus berinfak atau penerima infak.  Intinya setiap muslim yang berinfak akan mendapatkan balasan dari Allah. 
  3. Mulailah sedekah dari dirimu sendiri, setelah itu bersedekahlah kepada ayahmu, kemudian kerabatmu, baru kemudian untuk ini dan untuk itu (HR Bukhari, Muslim, Ibn Hibban dari Jabir).
  4. Jika kamu dikaruniai Allah kebaikan (harta) maka mulailah (bersedekah) dari orang yang menjadi tanggunganmu (HR Muslim, Ahmad dan Nasai).
  5. Mulailah sedekah terhadap ibumu sendiri, ayahmu, saudaramu, orang-orang dekatmu dan jangan lupa tetangga dan orang yang memerlukan (HR At Thabrani).
  6. Mustahiq untuk zakat ada 8 golongan; infak lebih utama keluarga, kerabat, orang/lembaga yang sangat memerlukan; sedekah   lebih utama keluarga, kerabat, orang/lembaga yang sangat memerlukan bahkan boleh untuk orang kaya.  
  7. Bagaimanakah dalam berkebun sedekah? Sedekah bisa dimulai dari keluarga kerabat sendiri yang kurang mampu dan diberikan modal usaha kerja dan pembinaan atau pelatihan usaha oleh kita sendiri apabila mampu mengelola dan mengetahui siapa yang ulet dalam beribadah sebagai awal berkebun sedekah.  Namun apabila tidak mampu maka disalurkan ke lembaga ZIS.  Lembaga ini mengelola dana dari ZIS untuk dilakukan pembagian ke mustahiq secara sistem rating score.  Kenapa perlu rating score ? Hal ini untuk menentukan tingkat "awalu biniat" segala sesuatu dari niatnya.  Contoh kasus : dipilih seorang mukmin yang selalu beribadah di masjid namun kehidupannya kekurangan maka perlu diberikan bantuan modal kerja usaha dan pelatihan dari lembaga ZIS sehingga suatu saat akan menjadi pengusaha sukses dan hasil usahanya disedekahkan atau diinfakkan atau dizakatkan dan seterusnya secara bergulir. Score rating ini akan memancing mukmin lain agar terus taat beribadah dan bertawakal.  Tentu ada sistem rating score lainnya sebagai calon mistahiq produktif.........Mungkin anda dapat memberikan gambaran lainnya ?

 
Design by Nur Wahyu Adiwijaya | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons